One Step Closer For BERLIN 2015!

Ya! Mungkin itulah sedikit gambaran perjalanan Juventus di Liga Champions musim ini. Banyak yang tidak menduga bahwa perjalanan La Vecchia Signora mampu menembus semifinal ajang paling bergengsi seantero eropa itu.
Bahkan ketika mampu mengalahkan Real Madrid di Leg  pertama Juventus tetap diposisikan sebagai underdog, sebuah kondisi yang bagi sebagian besar orang disebut situasi yang nyaman karena beban besar justru ada pada team lawan. Keunggulan 2-1 di Leg pertama belum menjamin apapun meski hasil imbang pun akan mengantarkan Il Bianconeri menuju partai puncak.
Tapi, sangat riskan apabila Juventus harus bermain untuk mencari seri.

image (13)-crop
Idealnya adalah mereka akan bermain untuk merebut ball possesion, marking zone yang ketat dan melakukan permainan efektif dengan sesekali melakukan Counter Attack cepat dari kedua sisi sayap yang pastinya akan memberikan pressure hebat kepada duo bek sayap Reaol Madrid, Marcelo dan Dani Carvajal. Cara terakhir tersebut di Leg pertama cukup efektif, penetrasi cepat El Apache membuat Dani Carvajal terpaksa melakukan tackle yang berbuah hukuman penalti untuk Real Madrid. Selain itu kembalinya Paul Pogba akan melengkapi hegemoni trio MVP dalam ambisi menguasai lapangan tengah Bernabeu. Hal itu juga menjadi angin segar bagi Allegri untuk lebih leluasa menerapkan strategi yang dapat berubah setiap saat baik ketika menyerang maupun bertahan. Dari 4-3-1-2 dapat bergeser menjadi 4-4-2 bahkan  bisa berubah menjadi 3-5-2. Namun sekuat apapun keinginan Juventus untuk dapat menguasai ball possesion,  Juventus tetaplah Juventus yang merupakan  representasi dari gaya bermain Cattenacio ala Italy dimana kemungkinan besar sosok Leonardo Bonucci akan menjadi Libero dibelakang Chiellini,Lichsteiner dan Evra yang bertugas untuk membuang bola yang memasuki area kotak 12 pas ketika mendapat tekanan hebat dari barisan depan Madrid.

Beberapa kesalahan yang tidak perlu dilakukan saat bermain di area pertahanan juga haruslah diminimalisir sekecil mungkin oleh para pemain, masih sangat segar bagaimana detak jantung Juventini bergetar keras taktala Chiellini terpeleset di menit-menit awal saat melakoni Leg kedua melawan AS.Monaco di Stade Louis II padahal dia adalah orang terakhir di barisan pertahanan saat itu.

Dibalik teknis diatas lapangan marilah sejenak kita sedikit bernostalgia pada momen-momen indah bertahun-tahun silam untuk membangkitkan semangat saat mendukung total Juventus di Leg kedua semifinal besok, Kamis, 14/05.

Di Semifinal Champions League tahun 1996, sosok pemuda berusia 18 tahun menjadi pahlawan kemenangan Real Madrid saat bertanding di Leg pertama di Stadion Santiago Bernabeu, 1-0 untuk Madrid (pemuda tersebut bernama Raul Gonzalez). Di leg kedua (saat itu masih Delle Alpi Stadium) giliran pemuda lainnya yang membalikkan keadaan, dialah Allesandro Del Piero, dilengkapi oleh gol Michele Padovano. Dwi gol tersebut membawa Juventus ke partai puncak sebelum akhirnya menjadi juara lewat adu penalty melawan Ajax Amsterdam. Di fase yang sama pada tahun 2003 Juventus mampu melakukan comeback yang sangat luar biasa, tumbang 2-1 di Bernabeu lewat gol duo Brazil Ronaldo dan Roberto Carlos hanya mampu dibalas oleh David Trezeguet.

15-crop
Namun, Juventus justru menang 3-1 lewat gol-gol Trezeguet, Del Piero dan Pavel Nedved, dua laga hebat semifinal melawan madrid tersebut adalah stimulus penting bagi kita semua untuk terus memberikan dukungan kepada Juventus pada partai esok. Jangan pikirkan final terlebih dahulu, ingatlah Real Madrid bukanlah lawan ringan dengan pemain-pemain antah berantah. Yang kita hadapi adalah sang juara bertahan dan pengkoleksi gelar terbanyak Liga Champion. kemenangan, seri atau bahkan kalah dengan skor tipis 3-2,4-3, dan seterusnya akan membawa Juventus kepada partai puncak. Sebuah momen penting bukan hanya bagi Juventus semata tapi juga sepakbola italy secara keseluruhan.

Fino Alla Fine…
FORZA JUVENTUS!!!

Aji

You may also like...